Tepat di resolusi tahun lalu, saya menanamkan niat untuk mendaftarkan diri ke tempat fitness atau gym. Bukan tanpa alasan, selepas kelulusan jenjang diploma tiga dan meneruskan studi ekstensi sarjana di Ibu Kota, membuat saya sukar untuk menemukan jogging track yang sepadan dengan suasana di kampus terdahulu. Ya, saya sangat gemar untuk jogging. Masih terekam jelas pada ingatan saya bahwa Univesitas Indonesia berhasil memfasilitasi para pencari jogging track yang nyaman dan aman, terutama bagi diri saya sendiri. Agustus 2017, menjadi bulan penuh saksi mengenai pertama kalinya saya bergabung menjadi anggota di salah satu tempat gym di daerah Cirebon.
Hal di atas seakan prestasi bagi saya karena fitness bukan lagi sekedar wacana belaka. Perihal fitness, saya kukuhkan bahwa itu bukan hanya jadi resolusi melainkan menjadi sebuah kebiasaan positif. Baru-baru ini saya sempat berbincang dengan kawan lama ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama mengenai keterkaitan antara usia 20-an dengan kesehatan. Saya pikir, mungkin boleh jadi masih ada beberapa orang yang menganggap sepele isu kesehatan. Bukan tanpa sebab, di usia inilah mereka mulai mengalami kesibukan sebagai pelaku first-jobber yang produktif. Olahraga seakan benar-benar menjadi impian karena alasan satu dua hal, apalagi ‘Duh, urusan kerjaan bener-bener gabisa gue tinggalin’. Akhir pekan dijadikan hari malas-malasan sedunia.
Agak naif bila saya pun tidak setuju dengan pernyataan bahwa akhir pekan digunakan sebagai hari non-produktif. Betapa tidak, tugas kuliah ekstensi dan seluruh tetek-bengek dunia pekerjaan paruh waktu benar-benar menyita waktu, bahkan tenaga. Hari libur menjadi ajang balas dendam untuk bercumbu dengan kasur dari terbit fajar hingga tenggelam sang surya. Bukan resolusi namanya kalau tidak ada yang dikorbankan. Bila menelisik kilas balik di tahun lalu, Januari sampai Juli 2017 pun terasa seperti perpindahan hari, begitu cepat, bahkan seakan membuat saya terlena akan resolusi-resolusi yang sudah mantap direncanakan.
Masih segar dalam ingatan, saya membeli seluruh perlengkapan gym mulai dari sarung tangan, handuk kecil, kaos tank-top, sepatu, dan celana training demi munculnya motivasi untuk konsisten dengan dunia per-gym-an ini. Bulan Agustus, bulan pertama yang sukses membuat saya jatuh cinta dengan alat-alat berat. Lalu bulan September, saya bergabung di tempat gym daerah Jakarta Timur, bulan ini juga sukses membuat saya lebih cermat dengan pola makan serta selektif dengan makanan. Bulan Oktober, November, dan Desember berhasil membuat saya menjadikan gym sebagai kebutuhan, bukan keinginan lagi. Hasilnya? Saya semakin cinta dengan diri saya sendiri. Sehat? Seharusnya sudah pasti! Orientasi saya berolahraga adalah untuk diri saya sendiri. Urusan badan terbentuk atletis? Biar waktu yang menjawabnya. Bahagia dan senang karena saya sudah menjadi sahabat karib tempat gym beserta alat-alatnya. Berikut adalah foto-foto kompilasi yang menjadi saksi dalam perjalanan saya dari bulan ke bulan, hingga awal Januari 2018.

Komentar
Posting Komentar